
SANDINEWS.ID, TOLANDONA – Suasana khidmat menyelimuti Kabupaten Buton Tengah pada Minggu pagi (30/11/2025). Bupati Buton Tengah, Dr. H. Azhari, S.STP., M.Si., secara resmi memimpin Upacara Tradisi Penerimaan Batalyon Infanteri (Yonif) TP 870/Sangia Wambulu. Momentum bersejarah ini tidak hanya menandai kehadiran kekuatan pertahanan baru, tetapi juga menjadi simbol sinergi antara semangat keprajuritan dan nilai-nilai religius di Negeri Seribu Gua.

Acara yang dihadiri oleh jajaran Forkopimda, termasuk Ketua DPRD Buton Tengah, Dandim 1413 Buton, Danyonif TP 870 Sangia Wambulu, Raja Buton, Wakapolres, Pj. Sekda, serta Kepala OPD lingkup Pemda Buton Tengah ini, dirangkaikan dengan tradisi adat Kande-Kandea (makan bersama) sebagai wujud syukur dan keramah-tamahan masyarakat Buton Tengah.
Dalam sambutannya, Bupati Azhari mengungkapkan latar belakang pembentukan batalyon ini yang merupakan respon cepat pemerintah daerah terhadap program Presiden RI.
“Alhamdulillah, hari ini kita menerima secara resmi Batalyon TP 870 Sangia Wambulu. Ini bermula empat bulan lalu saat Dandim menyampaikan adanya program Presiden untuk pembentukan batalyon baru yang juga berfungsi sebagai kompi bantuan pembangunan daerah di masa damai. Saya menyambut baik inisiatif tersebut dan segera berkoordinasi dengan para Camat untuk menyiapkan lahan di Desa Waara, Kecamatan Lakudo,” ungkap Azhari.
Filosofi Sangia Wambulu: Ulama Sekaligus Panglima
Pemilihan nama “Sangia Wambulu” untuk satuan ini memiliki makna filosofis yang mendalam. Bupati Azhari menjelaskan bahwa nama tersebut ia usulkan karena merepresentasikan figur paripurna yang sangat dihormati dalam sejarah Kesultanan Buton.
“Sangia Wambulu adalah bangsawan Buton yang hidup di akhir tahun 1500-an. Beliau adalah figur istimewa; seorang Imam Masjid Agung Kraton Kesultanan Buton dari putra asli daerah, sekaligus Panglima Perang yang memimpin pasukan kesultanan di wilayah Selat Buton,” jelas Bupati.
Lebih lanjut, Azhari menekankan bahwa Sangia Wambulu adalah teladan tentang keseimbangan hidup. Sosoknya mengajarkan bahwa kewajiban bela negara dan pendalaman ilmu agama bukanlah hal yang bertentangan, melainkan dua sisi mata uang yang saling menguatkan.
“Semangat beliau sebagai ksatria yang mempertahankan negeri berjalan beriringan dengan ketekunannya menuntut ilmu agama. Inilah yang harus kita teladani. Sukses dalam karier, namun tetap sukses dalam kepribadian sebagai hamba Sang Pencipta,” tambahnya.
Manifestasi Visi Kota Santri
Semangat dualitas antara ilmu dunia dan akhirat ini, menurut Azhari, sejalan dengan visi Buton Tengah sebagai Kota Santri dan Kota Pendidikan. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mendorong generasi muda agar tidak hanya mengejar pendidikan formal, tetapi juga memperkuat fondasi agama.
“Apapun profesi anak-anak kita kelak, bekal mengaji dan shalat akan menjadi penuntun mereka. Seperti Sangia Wambulu, mereka akan tangguh di medan tugas, namun tetap bersujud kepada Sang Khalik,” tegas Azhari.
Rangkaian acara ditutup dengan prosesi pelepasan anggota Batalyon Infanteri TP 870/Sangia Wambulu oleh Bupati untuk melakukan ziarah ke makam Sangia Wambulu. Ziarah ini dimaksudkan sebagai bentuk penghormatan sekaligus napak tilas spiritual untuk menyerap semangat juang sang tokoh.
“Selamat datang Batalyon TP 870 Sangia Wambulu. Semoga kehadiran satuan ini menjadikan Buton Tengah semakin aman, maju, dan berkembang,” tutup Bupati Azhari.
Laporan : Aji Buton
Tinggalkan Balasan